Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Mu dari Ku

Untuk: Mu yang bahkan rupawan kala membanting tulang. Dari: Ku yang bahkan tak kau kenal. Untuk: Mu yang dengan gagahnya menantang senja kala itu. Dari: Ku yang dengan pengecutnya mengambil jalan memutar senja itu. Untuk: Mu yang dengan santai menuju toilet di tengah ujian. Dari: Ku yang dengan kikuk memalingkan muka merahku darimu. Untuk: Mu yang nampak bahagia di tiap potret. Dari: Ku yang hanya berani menatap potretmu lewat nama palsu. Ku harap, suatu saat takdir membuat tangan kita bergandengan, menyeimbangkan napas pada irama yang sama. Semoga, saat mata terpejam pun, kita dapat saling merasakan debaran masing-masing. Untuk: Mu yang sering menatap layar ponsel. Dari: Ku yang selalu berharap alasanmu adalah aku. Aamiin. Ur lovely catto, Meong

Sudahlah

Kenapa begitu memaksakan? Dia tak lagi rindu sapamu, tak berdebar di tiap kedipan matamu, dan tak lagi perlu pelukmu tuk alas tidur. Hentikan. Hanya karena dia pernah mencintaimu, tak berarti selamanya kau dapat jadi darahnya. Sadarlah. Dia berhak memilih dan memutuskan. Kamu pun demikian, mulailah kembali tidur dengan nyenyak.

Kekasih, Berbahagialah

Kekasih, berbahagialah. Hari ini aku melepas genggaman harapku padamu, menyapu sisa hangatmu di nadiku. Aku benar-benar akan menghapus semua rasa yang salah ini. Meski berat, sakit, sukar, perih, aku akan berusaha. Maaf telah membebanimu selama ini. Tulisanku tak akan lagi berisi keluhan, "mengapa kau tak cintaiku balik?", tak akan. Kamu bisa menggenggam ucapanku, aku akan membakar rasa yang salah ini. Tapi tidak sekarang. Tubuhku perlu beradaptasi tuk bernapas tanpa bimbinganmu.

Katanya

Katanya, semua orang pasti punya masa-masa terendah dalam hidupnya. Masa-masa di mana diri serasa  tak lebih berguna dibanding debu, lebih rendah dari garis rantai makanan terendah, lebih gelap dari bayangan, yah, masa-masa yang membuat seakan diri akan amat-sangat lebih berguna kalo gak ada di dunia. Aku, gak ngerasa terlalu tepat di titik terendah itu, cuma yaa, di sekitar titik itu, iya. Aku lagi ngerasa down aja. Halah, kamu aja yang lebay, May, semua orang juga punya masalah dan lebih berat dari kamu. Yes, I know. But, kalo kamu bilang semua orang juga punya masalah, well, inilah masalah aku. Padahal cuma disuruh ngerjain TA, padahal cuma belum pulang tiga bulan, padahal cuma gapunya temen, padahal cuma.. padahal cuma.. Enggak, buat aku ini gak sekadar "padahal cuma". Jujur, aku suka sepi, tapi amat-sangat benci kesepian. Dulu, zaman-zaman D3, aku masih punya Ateh ama Ticeu. Sekarang, mereka udah gak ada di samping aku lagi, udah punya urusan yang beda.  Ya ...

Curhat Session: Jadi Orang Lain buat Orang Lain?

Aku suka sama cowok gak sekali-dua kali, sering. Ya maklum, hamba orangnya sensian, baperan. Dibaikin dikit, baper. Disenyumin dikit, baper. Dibantuin dikit, baper. Dia manggil aku, baper. Dia napas, baper juga. Wkwk. Ya tapi kek naksir-naksir gitu aja sih. Kalo ampe suka beneran mah, eh banyak juga sih. Hhahaha. Pernah tuh dulu, suka sama cowok baik-baik. Iya baik, baik semuanya. Orangnya kalem, kalo senyum adem, omongannya juga enak. Terus aku jadi kebawa-bawa gitu. Pengen jadi baik juga. Aku yang nyablak, ceplas-ceplos, weekend di kamar doang, jadi sok-sokan berusaha baik gitu. Wkwk. Bagus sih ini sebenernya. Ngan gitu. Niat aku gak lurus, Genngs. Niat aku buat jaid lebih baik bukan kerna pure pen jadi lebih baik, tapi kerna si cowok tadi. Setelah aku gak naksir lagi si cowok ini, aku balik lagi jadi diri aku yang awal. Yang nyeplos, yang bangke, yang rese. Tapi aku nyaman. Aku nyaman sama diri aku yang kek gitu, bukan sama diri aku yang pen sok-sok keliatan baik di mata doi...

Curhat Session: Sakit

Hay, ini Meong.. Kangen aku gak? Hhaha.. Setelah sekian lama gak ngepost curhatan, akhirnya aku dateng lagi buat curcol.. Jadi gini, aku sekarang udah semester akhir nih. Udah harus fokus sama tugas akhir. Tapi, kek dimulai dari sekitar satu bulan yang lalu aku tuh kadang suka sakit-sakit gak jelas. (Iya, gak jelas kayak kabar doi kalian. Wkwk.) Kayak tiga hari demam, batuk pilek, besoknya sembuh. Gak lama, gitu lagi, sembuh lagi, gitu lagi, sembuh lagi. Kan bete ya. Udah beberapa kali mau ke dokter, tapi gak jadi mulu kerna pas mau caw pasti badan kerasa enakan, mendingan. Nah, tadi pas ngampus, kerasa lagi tuh, pusing, meriang, dan semacamnya. Aku mikirnya, May kali ini kamu ke dokter aja, ya minimal aku dikasih vitamin gitu. Kali aja kan anti bodi aku lagi turun. Pas beres kuliah sebenernya udah pusing banget, ngan aku harus nge-hole saw container buat TA, soalnya udah janjian lama banget sama Raia tapi banyak banget halangan, jadinya baru bisa tadi. Ya gak enak aja kalo diundu...

Menyimpanmu

Jika aku menyimpan namamu dalam hatiku, apakah tak apa? Jika aku memiliki potretmu dalam lipatan dompetku, tak apakah? Aku tak tahu bahwa ada beberapa hal yang tak mudah untuk disimpan sendiri, lalu jadi lebih sulit untuk disampaikan. Menari dan bersenandung kecil di jalan pulang, berteriak gemas sambil menutupi muka dengan bantal, tersenyum saat tengah sendiri,  menulis namamu di dinding kamar. Eh, menjadikanmu alasanku tersenyum, dosakah? Oh, terima kasih. Karenamu, kini aku punya alasan kenapa aku harus bangun tidur. Cinta itu tidak buta, tapi membutakan, dan ya, aku sering tersandung setelah melirik senyummu. Memutari lapangan, berjalan dengan rute jauh, berjinjit dan mengintip di sela pintu kelasmu, merona pada rambutmu yang tertiup angin sore, berdegup melihat keringat di keningmu saat bekerja. Semoga kamu tak tersedak karena aku yang selalu menggumamkan namamu, ku harap kamu tak apa setelah ku paku rupamu dalam kepalaku. Bebe...