Langsung ke konten utama

Postingan

Halo, Bisa Dekap Aku?

Ada wajahmu dalam mimpi terakhirku, aku jadi terpikir, kapan terakhir kali aku menghubungimu? Are you doing well? Apa kamu baik saja setelah perpisahan kita? Karena aku tidak. Bunga terakhir darimu telah lama mati dan menyisakan vas kosong. Begitu pun bajumu yang sengaja tak ku kembalikan, ku dekap lekat hingga kehilangan aroma aslinya. Kamu, apa kabar? Bisakah kita bertemu agar aku bisa minta baju lain yang beraroma kamu? Kamu, jika aku menghubungimu kembali, akankah kamu merasa janggal? Tapi tidak, aku terlalu takut. Aku takut tahu bahwa cuma aku yang sengsara. Bohong. Adalah dusta saat aku bilang tak apa. Melihatmu bahagia tanpa aku itu terlalu menyesakkan. Aku terlalu takut dan mau untuk kembali, tak bisakah kamu saja yang datang lalu dekap aku?
Sstt.. Tetaplah stagnan dalam dekapku, ketidaberdayaan inderamu saat ini sungguh ku nikmati. Aku suka leher lumpuhmu yang membuat kepalamu menumpu padaku. Diam, ku bilang diam. Tanpa kamu buka mulutmu pun aku sudah tahu, hapal luar kepala, khatam. Sshh.. Dari pada memberitahuku, lebih baik kau pakai bibirmu itu 'tuk balas ciumku barusan.

Palsu?

Salahku, aku yang bodoh, terlalu naif, terlanjur percayaimu. Padahal bintang telah aku petikkan, samudra telah aku kuraskan, bahkan tagihan telponmu kulunasi. Tapi sudahlah. Kamu bilang hanya aku, cuma aku satu-satunya, kamu akan selalu menunggu sampai kapanpun, mendoakan senyumku di tiap helaan napasmu, dan tak akan tak akan ada di tiap detik aku butuh kau. Tapi semuanya bohong, muslihat, tipu daya, lalu dengan bodohnya aku melahapnya mentah-mentah. Padahal seluruh dunia telah memperingatkanku, tapi aku tak percaya, lebih senang mulut busukmu. Aku masih ingat debaranmu saat kau peluk aku, apakah itu palsu? Ucapan bahwa kamu amat sangat terlampau benar-benar luar biasa terlalu mencintaiku, juga palsu? Tidak, aku tak butuh jawaban apalagi sanggahan. Diam, jangan bergerak, tak usah berpura-pura menyesal. Bangsattttt!!! Kepalamu dan wanita itu menggelinding dengan sekali tebas. Hah, lega.

Pemeran Pembantu

Pukul 1:50 pagi kamu masih tersenyum dengan mata beratmu di depan layar ponsel meski nomor yang kau hubungi adalah milikku, namun ku tahu senyummu bukan untukku. Tak lama kamu akan tertidur dengan lelap, tak peduli akan diriku yang masih terjaga tak peduli padaku yang selalu berusaha untuk menjagamu. Tak apa, aku baik-baik saja. Aku selalu ingin berada di sisimu, berjalan tanpa canggung dengan saling berpegangan tangan, mengatakan kamu cantik di tiap pagi aku menjemputmu, memuji kue buatanmu yang tetap ku makan meski terasa seperti batu, menunggumu selesai eskul hingga larut malam untuk mengantarmu pulang. Aku senang melihatmu sering memakai baju berwarna pastel untuk menemuiku, berlarian dengan warna rambut yang sering kali kau ubah sesuka hati, memakan makanan apapun yang kamu mau di sepanjang jalan, dan terlihat cerah. Menyilaukan. Membahagiakan. Berada di sekitarmu membuatku merasakan kehangatan, seakan hangatnya mentari tetap memelukku kala malam tib...

Kecil dan Besar

Ada bagian dari diriku yang selalu merindukan dekapanmu di tiap malam. Tapi dia hanya bagian kecil dari diriku saja. Bagian lain dari diriku sudah tak mau lagi bahkan sekadar untuk membalas sapamu saat kita tak sengaja bersua. Ada bagian dari diriku yang selalu penasaran akan kehidupanmu. Apa kamu baik saja? Apa beratmu turun setelah kita berpisah? Apa kadang kamu juga berangan agar kita kembali? Tapi tentu, sebagian besar dari diriku tak menyukainya. Bagian besar diriku bahkan tak mau lagi melihat profilmu di dunia maya. Ada suatu ruangan dari hatiku yang selalu terasa kosong setelah kamu pergi. Tapi tentu saja itu hanya ruangan kecil. Sebab, ruangan lain dari diriku telah sepenuhnya terisi kucing, makanan, dan apapun itu yang jelas bukan dirimu. Ada bagian kecil dari diriku yang masih tak bisa rela melihatmu menggandeng orang lain. Tapi jelas bagian itu sangat kecil. Bagian diriku yang lain sangat merasa tak peduli dengan apapun tentang dirimu. Seharusnya bagian-bagian kecil ...

Hah, Halah

Aku berjalan di antara rapuhnya penghujung senja, menemukan kamu dengan angan, kopi, dan segala puisi bodohmu. Hah, halah. Padahal setiap hari kamu melihatnya, padahal dari awal kamu sudah tahu, tapi kamu tetap tersenyum bodoh di tiap sapanya. Bodoh, kamu memang bodoh. Adalah kesalahan saat kamu memutuskan untuk menyukainya, lalu adalah kesalahan pula saat kamu tak berhenti untuk mengejarnya. Berhentilah, kamu cuma punya dua kaki. Mencoba menyukai segala hal tentang dia, mencatat ulang tahunnya, ayahnya, bibinya, bahkan kucingnya. Kamu bukan petugas kependudukan, kamu cuma orang bodoh yang bebal. Mengharap dan mendoakan kebahagiannya, benarkah? Aku tahu kamu memaki tiap kali mendapati mereka makan bersama. Tak pernah ingin melihatnya bersedih dan menangis, yakin? Kamu selalu tersenyum dan menyusun siasat tiap dia menangis kerna kekasihnya. Berharap suatu saat dia tahu bahwa kamu hidup lewat lagu-lagu senjamu, bodoh, kamu bahkan tak pernah...

Fikmin Sunda: Lain Pameget Baik-Baik

"Réuni téh bet tanggal kolot, apal lokét geus engap-engapan." Réni nyelewegkeun bolu, kuring ukur seuri. "Matakna boga salaki téh nu bageur, kalah nu korét!" Tatang némbalan. "Baé da kasép!" "Heueuh lamotan wé beungeutna, sugan kamerkaan!" "Baé! Batan jadi parawan kolot!" Cai nu keur diinum jol kaluar deui, reuwas. Kuring ohék-ohékan. Tatang nepak Réni méméh méré kuring tisu. Réni hahampuraan. Jol Agus nyampeurkeun, metot ka nu rada sepi. "Teu kunanaon?" Tonggong diusapan, kuring seuri. Inget jaman SMA, mun Réni jeung Tatang paséa, Agus pasti datang nyalametkeun kuring. Baheula kabéh karasa éndah. Ngan ayeuna mah geus béda, manéhna geus boga anak dua. "Geura milari anu sanés.” Leungeun kuring diusapan. Enya da néang lalaki téh jiga meuli ciréng, jol comot-comot! Puguh kuring téh nungguan anjeun kénéh. “Agus sanés pameget baik-baik." Jadi teu asa-asa, kuring metot kerah bajuna laju ngalamot biwirna. Apan cenah la...