Langsung ke konten utama

Postingan

Kamu Muncul Lagi

Kamu muncul lagi di pertigaan jalan di beranda dan kamar sempitku. Kamu tersenyum lagi dengan manisnya dengan tulusnya entah untuk siapa. Kamu dapat kembali mencinta menyukainya memeluknya mengelus kepalanya lembut. Kamu sudah tidak apa-apa ku rasa. Kamu sudah pulih baik-baik saja. Lantas mengapa kamu tidak kembali menyapaku? Menyunggingkan senyum atau tidak pura-pura tak lihat aku, setidaknya. Aku masih apa-apa tentu saja. Aku sakit, sepeninggalmu tidak baik-baik saja. Lantas aku beranikan diri menyapamu. Berusaha gapai peluk hangatmu tapi kamu pura-pura tak lihat aku, sadisnya. Kamu muncul lagi di pertigaan jalan di beranda dan kamar sempitku. Tapi kamu tak lagi sudi balas sapa, menyambut genggamku. Jika kamu memang muak, pergi saja itu akan meringankan aku, setidaknya. Tapi kamu lagi-lagi muncul kini seolah ingin balas jahatnya aku dulu membuatku lagi-lagi gila tunai sudah dendammu.
Kamu sudah tidak lagi memegang tanganku, terus berjalan, tak menyadari langkah tertinggalku. Peluk eratmu kini terasa hambar, saat kamu tatap aku, entah ke mana pikiranmu melayang. Padahal di luar matahari tengah terik, tapi kenapa ciummu terasa dingin? Ah, apa suaramu memang sejelek ini, ya? Lagu nina bobomu terdengar begitu ogah-ogahan. Hatiku.. terasa sakit tiap kau tak mau menyeimbangkan napas kita. Semua terasa pahit saat kau paksa persembahkan senyum untukku. Padahal semua bilang kau begitu lembut, padahal wanita itu bilang kau sangat manis, tapi melihatku mengunyah ayam pun, kau tak lagi sudi. Kamu sudah tidak lagi memegang tanganku, harusnya ku tahu saat itu kita telah usai.

Heh!

Sakitlah! Biar bukan cuma aku yang merana. Sementara aku meringis teringat janji busuk yang kau iris, kamu malah menawan dengan senyum yang kau tebarkan, Sial. Padahal ku megap-megap di tengah malam sepi, tapi kamu malah tidur nyenyak dengannya. Dasar tidak tahu diri! Hey! Kamu pernah berjanji. Setidaknya tepati barang satu saja sumpahmu. Heh! Kita pernah bersama, setidaknya kamu bisa berpura-pura bilang pernah cinta aku.

Halo, Bisa Dekap Aku?

Ada wajahmu dalam mimpi terakhirku, aku jadi terpikir, kapan terakhir kali aku menghubungimu? Are you doing well? Apa kamu baik saja setelah perpisahan kita? Karena aku tidak. Bunga terakhir darimu telah lama mati dan menyisakan vas kosong. Begitu pun bajumu yang sengaja tak ku kembalikan, ku dekap lekat hingga kehilangan aroma aslinya. Kamu, apa kabar? Bisakah kita bertemu agar aku bisa minta baju lain yang beraroma kamu? Kamu, jika aku menghubungimu kembali, akankah kamu merasa janggal? Tapi tidak, aku terlalu takut. Aku takut tahu bahwa cuma aku yang sengsara. Bohong. Adalah dusta saat aku bilang tak apa. Melihatmu bahagia tanpa aku itu terlalu menyesakkan. Aku terlalu takut dan mau untuk kembali, tak bisakah kamu saja yang datang lalu dekap aku?
Sstt.. Tetaplah stagnan dalam dekapku, ketidaberdayaan inderamu saat ini sungguh ku nikmati. Aku suka leher lumpuhmu yang membuat kepalamu menumpu padaku. Diam, ku bilang diam. Tanpa kamu buka mulutmu pun aku sudah tahu, hapal luar kepala, khatam. Sshh.. Dari pada memberitahuku, lebih baik kau pakai bibirmu itu 'tuk balas ciumku barusan.

Palsu?

Salahku, aku yang bodoh, terlalu naif, terlanjur percayaimu. Padahal bintang telah aku petikkan, samudra telah aku kuraskan, bahkan tagihan telponmu kulunasi. Tapi sudahlah. Kamu bilang hanya aku, cuma aku satu-satunya, kamu akan selalu menunggu sampai kapanpun, mendoakan senyumku di tiap helaan napasmu, dan tak akan tak akan ada di tiap detik aku butuh kau. Tapi semuanya bohong, muslihat, tipu daya, lalu dengan bodohnya aku melahapnya mentah-mentah. Padahal seluruh dunia telah memperingatkanku, tapi aku tak percaya, lebih senang mulut busukmu. Aku masih ingat debaranmu saat kau peluk aku, apakah itu palsu? Ucapan bahwa kamu amat sangat terlampau benar-benar luar biasa terlalu mencintaiku, juga palsu? Tidak, aku tak butuh jawaban apalagi sanggahan. Diam, jangan bergerak, tak usah berpura-pura menyesal. Bangsattttt!!! Kepalamu dan wanita itu menggelinding dengan sekali tebas. Hah, lega.

Pemeran Pembantu

Pukul 1:50 pagi kamu masih tersenyum dengan mata beratmu di depan layar ponsel meski nomor yang kau hubungi adalah milikku, namun ku tahu senyummu bukan untukku. Tak lama kamu akan tertidur dengan lelap, tak peduli akan diriku yang masih terjaga tak peduli padaku yang selalu berusaha untuk menjagamu. Tak apa, aku baik-baik saja. Aku selalu ingin berada di sisimu, berjalan tanpa canggung dengan saling berpegangan tangan, mengatakan kamu cantik di tiap pagi aku menjemputmu, memuji kue buatanmu yang tetap ku makan meski terasa seperti batu, menunggumu selesai eskul hingga larut malam untuk mengantarmu pulang. Aku senang melihatmu sering memakai baju berwarna pastel untuk menemuiku, berlarian dengan warna rambut yang sering kali kau ubah sesuka hati, memakan makanan apapun yang kamu mau di sepanjang jalan, dan terlihat cerah. Menyilaukan. Membahagiakan. Berada di sekitarmu membuatku merasakan kehangatan, seakan hangatnya mentari tetap memelukku kala malam tib...

Kecil dan Besar

Ada bagian dari diriku yang selalu merindukan dekapanmu di tiap malam. Tapi dia hanya bagian kecil dari diriku saja. Bagian lain dari diriku sudah tak mau lagi bahkan sekadar untuk membalas sapamu saat kita tak sengaja bersua. Ada bagian dari diriku yang selalu penasaran akan kehidupanmu. Apa kamu baik saja? Apa beratmu turun setelah kita berpisah? Apa kadang kamu juga berangan agar kita kembali? Tapi tentu, sebagian besar dari diriku tak menyukainya. Bagian besar diriku bahkan tak mau lagi melihat profilmu di dunia maya. Ada suatu ruangan dari hatiku yang selalu terasa kosong setelah kamu pergi. Tapi tentu saja itu hanya ruangan kecil. Sebab, ruangan lain dari diriku telah sepenuhnya terisi kucing, makanan, dan apapun itu yang jelas bukan dirimu. Ada bagian kecil dari diriku yang masih tak bisa rela melihatmu menggandeng orang lain. Tapi jelas bagian itu sangat kecil. Bagian diriku yang lain sangat merasa tak peduli dengan apapun tentang dirimu. Seharusnya bagian-bagian kecil ...

Hah, Halah

Aku berjalan di antara rapuhnya penghujung senja, menemukan kamu dengan angan, kopi, dan segala puisi bodohmu. Hah, halah. Padahal setiap hari kamu melihatnya, padahal dari awal kamu sudah tahu, tapi kamu tetap tersenyum bodoh di tiap sapanya. Bodoh, kamu memang bodoh. Adalah kesalahan saat kamu memutuskan untuk menyukainya, lalu adalah kesalahan pula saat kamu tak berhenti untuk mengejarnya. Berhentilah, kamu cuma punya dua kaki. Mencoba menyukai segala hal tentang dia, mencatat ulang tahunnya, ayahnya, bibinya, bahkan kucingnya. Kamu bukan petugas kependudukan, kamu cuma orang bodoh yang bebal. Mengharap dan mendoakan kebahagiannya, benarkah? Aku tahu kamu memaki tiap kali mendapati mereka makan bersama. Tak pernah ingin melihatnya bersedih dan menangis, yakin? Kamu selalu tersenyum dan menyusun siasat tiap dia menangis kerna kekasihnya. Berharap suatu saat dia tahu bahwa kamu hidup lewat lagu-lagu senjamu, bodoh, kamu bahkan tak pernah...

Fikmin Sunda: Lain Pameget Baik-Baik

"Réuni téh bet tanggal kolot, apal lokét geus engap-engapan." Réni nyelewegkeun bolu, kuring ukur seuri. "Matakna boga salaki téh nu bageur, kalah nu korét!" Tatang némbalan. "Baé da kasép!" "Heueuh lamotan wé beungeutna, sugan kamerkaan!" "Baé! Batan jadi parawan kolot!" Cai nu keur diinum jol kaluar deui, reuwas. Kuring ohék-ohékan. Tatang nepak Réni méméh méré kuring tisu. Réni hahampuraan. Jol Agus nyampeurkeun, metot ka nu rada sepi. "Teu kunanaon?" Tonggong diusapan, kuring seuri. Inget jaman SMA, mun Réni jeung Tatang paséa, Agus pasti datang nyalametkeun kuring. Baheula kabéh karasa éndah. Ngan ayeuna mah geus béda, manéhna geus boga anak dua. "Geura milari anu sanés.” Leungeun kuring diusapan. Enya da néang lalaki téh jiga meuli ciréng, jol comot-comot! Puguh kuring téh nungguan anjeun kénéh. “Agus sanés pameget baik-baik." Jadi teu asa-asa, kuring metot kerah bajuna laju ngalamot biwirna. Apan cenah la...

Kopong

Entah sejak kapan aku merasa kamu dekat, aku selalu merasa kamu ada, kamu selalu melengkapi. Ku kira kamu memang padaku, ku pikir kamu juga melihatku, dingin pelukmu selalu terasa hangat, aku tak tahu bahwa senyummu tak pernah bermakna. Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu! Sayang, aku sangat mencintaimu. Kamu yang cintaiku balik, ternyata hanya khayalanku, tak pernah sekali pun kau berkeinginan tuk menubuhkannya. Did I do something wrong? Tolong beri tahu aku, aku tahu ada terlalu banyak noda padaku, tapi aku tak tahu dosaku mana yang telah menikammu. Apa genggamanku terlalu menyesakkan? Mungkinkah senyumku terasa pengar? Ataukah semua maafku terlalu memuakkanmu? Utarakan padaku, berteriaklah bila perlu. Maki saja aku. Aku sungguh amat sangat terlampau benar-benar luar biasa terlalu mencintaimu. Berbual saja bahwa dulu rindumu memang pernah untukku, setidaknya bilang bahwa aku membosankan sehingga kamu ingin lari, bukan kata-kata bahwa aku tak p...

Tak Akan Tak Akan Ada

Halo, selamat siang, Sayang. Ini aku, bunyi lonceng sepeda udzur di awal senja. Adakah kamu mendengarnya? Hai, selamat sore. Kali ini aku adalah derit pagar besimu yang kau buka, menyambut mas bakso favoritmu. Di antara mereka, apakah kamu mendengar debaranku? Selamat sore, aku menaruh warna ungu di ujung petangmu, sukakah kamu? Maaf, tapi selamat malam.. Aku menitipkan dongeng pengantar tidur pada angin malam yang tak lagi dingin, adakah kau menerimanya? Apa kau terlelap setelahnya? Sayang, ku harap senyummu selalu mekar tiap hari, tiap waktu. Aku ingin kamu bahagia di tiap tarikan napas, berharap tangismu hanyalah tangis bahagia. Aku akan selalu ada, tak akan pernah absen mendoakan kebahagiaanmu, tak akan berhenti meniup lukamu hingga kering, tak akan tak akan ada di tiap detik kau butuh aku.

Menyukaimu itu Menyakitkan

Kenapa menyukaimu terasa begitu menyakitkan? Padahal ku sudah berharap banyak, padahal ku kira kamu akan mendekapku. Ah kekasih, lidahku telah kelu mengeja namamu, kakiku letih menunggu rambutmu menyembul di ujung senja, tapi kamu tidak datang. Tapi kamu tak ada. Beberapa kali ku putuskan tuk menyerah, berhenti menunggu namamu muncul di layar ponsel, merelakanmu untuk makhluk lain. Tapi tiba-tiba senyummu muncul, mencium keningku di ujung malam, menghancurkan segala usahaku sejak pagi buta. Aku menunggu lagi, berharap lagi, mengkhayal dan mengidamkan peluk hangatmu. Kamu hilang lagi, membantingku dengan kekasih barumu, membuatku hancur kembali. Aku patah, tak mau bertemu, tak mau kenal lagi. Tapi sinar matamu kembali menggedor pintu, menerobos masuk, lalu memeluk kembali hatiku. Kau pikir aku ini mainan penampung keisenganmu? Aku marah, kesal, jengkel, cemburu. Tapi aku diam. Siapa aku? Kucing pinggir jalan lebih berpengaruh atas hidupmu. Ah sudahlah, aku...

Untuk Mu dari Ku

Untuk: Mu yang bahkan rupawan kala membanting tulang. Dari: Ku yang bahkan tak kau kenal. Untuk: Mu yang dengan gagahnya menantang senja kala itu. Dari: Ku yang dengan pengecutnya mengambil jalan memutar senja itu. Untuk: Mu yang dengan santai menuju toilet di tengah ujian. Dari: Ku yang dengan kikuk memalingkan muka merahku darimu. Untuk: Mu yang nampak bahagia di tiap potret. Dari: Ku yang hanya berani menatap potretmu lewat nama palsu. Ku harap, suatu saat takdir membuat tangan kita bergandengan, menyeimbangkan napas pada irama yang sama. Semoga, saat mata terpejam pun, kita dapat saling merasakan debaran masing-masing. Untuk: Mu yang sering menatap layar ponsel. Dari: Ku yang selalu berharap alasanmu adalah aku. Aamiin. Ur lovely catto, Meong

Sudahlah

Kenapa begitu memaksakan? Dia tak lagi rindu sapamu, tak berdebar di tiap kedipan matamu, dan tak lagi perlu pelukmu tuk alas tidur. Hentikan. Hanya karena dia pernah mencintaimu, tak berarti selamanya kau dapat jadi darahnya. Sadarlah. Dia berhak memilih dan memutuskan. Kamu pun demikian, mulailah kembali tidur dengan nyenyak.

Kekasih, Berbahagialah

Kekasih, berbahagialah. Hari ini aku melepas genggaman harapku padamu, menyapu sisa hangatmu di nadiku. Aku benar-benar akan menghapus semua rasa yang salah ini. Meski berat, sakit, sukar, perih, aku akan berusaha. Maaf telah membebanimu selama ini. Tulisanku tak akan lagi berisi keluhan, "mengapa kau tak cintaiku balik?", tak akan. Kamu bisa menggenggam ucapanku, aku akan membakar rasa yang salah ini. Tapi tidak sekarang. Tubuhku perlu beradaptasi tuk bernapas tanpa bimbinganmu.

Katanya

Katanya, semua orang pasti punya masa-masa terendah dalam hidupnya. Masa-masa di mana diri serasa  tak lebih berguna dibanding debu, lebih rendah dari garis rantai makanan terendah, lebih gelap dari bayangan, yah, masa-masa yang membuat seakan diri akan amat-sangat lebih berguna kalo gak ada di dunia. Aku, gak ngerasa terlalu tepat di titik terendah itu, cuma yaa, di sekitar titik itu, iya. Aku lagi ngerasa down aja. Halah, kamu aja yang lebay, May, semua orang juga punya masalah dan lebih berat dari kamu. Yes, I know. But, kalo kamu bilang semua orang juga punya masalah, well, inilah masalah aku. Padahal cuma disuruh ngerjain TA, padahal cuma belum pulang tiga bulan, padahal cuma gapunya temen, padahal cuma.. padahal cuma.. Enggak, buat aku ini gak sekadar "padahal cuma". Jujur, aku suka sepi, tapi amat-sangat benci kesepian. Dulu, zaman-zaman D3, aku masih punya Ateh ama Ticeu. Sekarang, mereka udah gak ada di samping aku lagi, udah punya urusan yang beda.  Ya ...