Langsung ke konten utama

Postingan

Curhat Session: Jadi Orang Lain buat Orang Lain?

Aku suka sama cowok gak sekali-dua kali, sering. Ya maklum, hamba orangnya sensian, baperan. Dibaikin dikit, baper. Disenyumin dikit, baper. Dibantuin dikit, baper. Dia manggil aku, baper. Dia napas, baper juga. Wkwk. Ya tapi kek naksir-naksir gitu aja sih. Kalo ampe suka beneran mah, eh banyak juga sih. Hhahaha. Pernah tuh dulu, suka sama cowok baik-baik. Iya baik, baik semuanya. Orangnya kalem, kalo senyum adem, omongannya juga enak. Terus aku jadi kebawa-bawa gitu. Pengen jadi baik juga. Aku yang nyablak, ceplas-ceplos, weekend di kamar doang, jadi sok-sokan berusaha baik gitu. Wkwk. Bagus sih ini sebenernya. Ngan gitu. Niat aku gak lurus, Genngs. Niat aku buat jaid lebih baik bukan kerna pure pen jadi lebih baik, tapi kerna si cowok tadi. Setelah aku gak naksir lagi si cowok ini, aku balik lagi jadi diri aku yang awal. Yang nyeplos, yang bangke, yang rese. Tapi aku nyaman. Aku nyaman sama diri aku yang kek gitu, bukan sama diri aku yang pen sok-sok keliatan baik di mata doi...

Curhat Session: Sakit

Hay, ini Meong.. Kangen aku gak? Hhaha.. Setelah sekian lama gak ngepost curhatan, akhirnya aku dateng lagi buat curcol.. Jadi gini, aku sekarang udah semester akhir nih. Udah harus fokus sama tugas akhir. Tapi, kek dimulai dari sekitar satu bulan yang lalu aku tuh kadang suka sakit-sakit gak jelas. (Iya, gak jelas kayak kabar doi kalian. Wkwk.) Kayak tiga hari demam, batuk pilek, besoknya sembuh. Gak lama, gitu lagi, sembuh lagi, gitu lagi, sembuh lagi. Kan bete ya. Udah beberapa kali mau ke dokter, tapi gak jadi mulu kerna pas mau caw pasti badan kerasa enakan, mendingan. Nah, tadi pas ngampus, kerasa lagi tuh, pusing, meriang, dan semacamnya. Aku mikirnya, May kali ini kamu ke dokter aja, ya minimal aku dikasih vitamin gitu. Kali aja kan anti bodi aku lagi turun. Pas beres kuliah sebenernya udah pusing banget, ngan aku harus nge-hole saw container buat TA, soalnya udah janjian lama banget sama Raia tapi banyak banget halangan, jadinya baru bisa tadi. Ya gak enak aja kalo diundu...

Menyimpanmu

Jika aku menyimpan namamu dalam hatiku, apakah tak apa? Jika aku memiliki potretmu dalam lipatan dompetku, tak apakah? Aku tak tahu bahwa ada beberapa hal yang tak mudah untuk disimpan sendiri, lalu jadi lebih sulit untuk disampaikan. Menari dan bersenandung kecil di jalan pulang, berteriak gemas sambil menutupi muka dengan bantal, tersenyum saat tengah sendiri,  menulis namamu di dinding kamar. Eh, menjadikanmu alasanku tersenyum, dosakah? Oh, terima kasih. Karenamu, kini aku punya alasan kenapa aku harus bangun tidur. Cinta itu tidak buta, tapi membutakan, dan ya, aku sering tersandung setelah melirik senyummu. Memutari lapangan, berjalan dengan rute jauh, berjinjit dan mengintip di sela pintu kelasmu, merona pada rambutmu yang tertiup angin sore, berdegup melihat keringat di keningmu saat bekerja. Semoga kamu tak tersedak karena aku yang selalu menggumamkan namamu, ku harap kamu tak apa setelah ku paku rupamu dalam kepalaku. Bebe...
I miss you like hell, I miss you so much I really like you, Boy I really like you meski kau tak pernah mengerti, tak mau tahu. Aku telah mengungkapkan, dan ku lelah mengharapkan karena kau diam saja dan berlalu..
Kemarau panjang di pertengahan bulan menyisakan sedikit rintikan kemarin malam. Sekarang kulihat genting tetangga telah kering oleh teriknya siang. Dedaunan kering menghempaskan diri ketika angin sepoi dengan iseng menyentilnya. Satu-dua sepeda lewat, menyusuri gang kecil yang terhindar dari gaduhnya dunia luar. Ada suara renyah terdengar ketika ban-ban sepeda menggilas dedaunan kering yang terkapar pasrah di gang sepi itu. Sesekali gorden jendelaku berkibar tertiup kipas angin. Suara bising kipas tua itu nampak lebih perkasa ketimbang tiupannya. Walau begitu, si kipas tetap rajin berputar ketika kunyalakan. Lumayanlah, suaranya cukup nikmat untuk teman tidur siangku yang cuma beberapa menit. Beberapa kali ibu menawarkan agar si kipas tua itu diganti saja dengan AC baru, yang lebih gagah tentunya. Namun ku tolak. Kipas tua ini cukup bisa menemani aku di rumah ini. Ponselku bergetar, berteriak memanggilku. "Saya sudah di depang, Neng!" Ujar seseorang di seberang sana. Deng...

Egois

Mau gila saja rasanya. Aku hampir selalu tak bisa menahan diri untuk tidak menghubungimu. Ingin kembali saja rasanya. Aku ingin berbalik dan menemukanmu siap membalas pelukanku. Kadang aku ingin kita berpapasan hanya untuk menyampaikan sapa. Aku ingin kamu tertawa pada beberapa cerita kebodohanku. Aku berharap kamu akan bersiap saat aku berlari ke arahmu memeluk lalu mengangkatku ke udara. Tapi apa aku? Aku sama sekali tak berhak untuk bilang rindu. Tapi aku apa? Kamu memiliki hak penuh untuk mendorongku pergi. Aku menulis namamu di dinding untuk kemudian kucoreti mengumpati bayang di cermin karena tak berani untuk muncul di depanmu. Aku menggali ruangan, mencari suratmu yang pernah ku kubur memaki diri yang pernah merobeknya setelah dulu meninggalkanmu. Kamu benar, aku memang egois. Dulu bersikeras meninggalkanmu, menyisakan sedikit isakan, meski kamu bilang jangan. Kini aku menyesal dan kembali egois. Aku ingin kembali padamu, memeluk namamu dengan uraian air m...

Sleep Tight {}

Selamat malam, selamat tidur, selamat beristirahat. Malam terlalu gelap, tutup saja matamu sejenak, siapkan energi untuk mentari esok. Tentu, semua orang berhak atas esok, namun tak semua dapat memilikinya. Tidurlah, esok akan kubangunkan kamu dengan kecupan kecil di kening. Merebahlah, tutup matamu, matikan pikiranmu sekejap. Melirik masa lalu dapat membuatmu tertawa, namun bila memandanginya, kamu hanya akan dapat kehampaan dan kesakitan karena tak bisa memilikinya. Masa lalu tak akan pernah bisa kamu ubah dan tak akan berarti apa-apa bila hanya kamu ratapi. Kemarilah, tak akan kubiarkan kamu kedinginan. Menangis sesekali dalam tidur tak akan menyakiti hati orang. Kemarilah, kemarilah. Akan kupeluk kamu hingga terlelap. Tak apa, tak apa. Kutepuk-tepuk punggunggmu pelan.