Langsung ke konten utama

Postingan

I miss you like hell, I miss you so much I really like you, Boy I really like you meski kau tak pernah mengerti, tak mau tahu. Aku telah mengungkapkan, dan ku lelah mengharapkan karena kau diam saja dan berlalu..
Kemarau panjang di pertengahan bulan menyisakan sedikit rintikan kemarin malam. Sekarang kulihat genting tetangga telah kering oleh teriknya siang. Dedaunan kering menghempaskan diri ketika angin sepoi dengan iseng menyentilnya. Satu-dua sepeda lewat, menyusuri gang kecil yang terhindar dari gaduhnya dunia luar. Ada suara renyah terdengar ketika ban-ban sepeda menggilas dedaunan kering yang terkapar pasrah di gang sepi itu. Sesekali gorden jendelaku berkibar tertiup kipas angin. Suara bising kipas tua itu nampak lebih perkasa ketimbang tiupannya. Walau begitu, si kipas tetap rajin berputar ketika kunyalakan. Lumayanlah, suaranya cukup nikmat untuk teman tidur siangku yang cuma beberapa menit. Beberapa kali ibu menawarkan agar si kipas tua itu diganti saja dengan AC baru, yang lebih gagah tentunya. Namun ku tolak. Kipas tua ini cukup bisa menemani aku di rumah ini. Ponselku bergetar, berteriak memanggilku. "Saya sudah di depang, Neng!" Ujar seseorang di seberang sana. Deng...

Egois

Mau gila saja rasanya. Aku hampir selalu tak bisa menahan diri untuk tidak menghubungimu. Ingin kembali saja rasanya. Aku ingin berbalik dan menemukanmu siap membalas pelukanku. Kadang aku ingin kita berpapasan hanya untuk menyampaikan sapa. Aku ingin kamu tertawa pada beberapa cerita kebodohanku. Aku berharap kamu akan bersiap saat aku berlari ke arahmu memeluk lalu mengangkatku ke udara. Tapi apa aku? Aku sama sekali tak berhak untuk bilang rindu. Tapi aku apa? Kamu memiliki hak penuh untuk mendorongku pergi. Aku menulis namamu di dinding untuk kemudian kucoreti mengumpati bayang di cermin karena tak berani untuk muncul di depanmu. Aku menggali ruangan, mencari suratmu yang pernah ku kubur memaki diri yang pernah merobeknya setelah dulu meninggalkanmu. Kamu benar, aku memang egois. Dulu bersikeras meninggalkanmu, menyisakan sedikit isakan, meski kamu bilang jangan. Kini aku menyesal dan kembali egois. Aku ingin kembali padamu, memeluk namamu dengan uraian air m...

Sleep Tight {}

Selamat malam, selamat tidur, selamat beristirahat. Malam terlalu gelap, tutup saja matamu sejenak, siapkan energi untuk mentari esok. Tentu, semua orang berhak atas esok, namun tak semua dapat memilikinya. Tidurlah, esok akan kubangunkan kamu dengan kecupan kecil di kening. Merebahlah, tutup matamu, matikan pikiranmu sekejap. Melirik masa lalu dapat membuatmu tertawa, namun bila memandanginya, kamu hanya akan dapat kehampaan dan kesakitan karena tak bisa memilikinya. Masa lalu tak akan pernah bisa kamu ubah dan tak akan berarti apa-apa bila hanya kamu ratapi. Kemarilah, tak akan kubiarkan kamu kedinginan. Menangis sesekali dalam tidur tak akan menyakiti hati orang. Kemarilah, kemarilah. Akan kupeluk kamu hingga terlelap. Tak apa, tak apa. Kutepuk-tepuk punggunggmu pelan.

Terbitlah

Kamu tahu? Aku merasa begitu menyedihkan saat kamu mulai melangkah pergi. Ada banyak gejolak perasaan yang memenuhi dadaku, menyesakkan, namun tak mampu terucapkan. Aku tak pernah merasa seegois ini, tapi tolong katakan kamu tak akan pergi, berjanjilah bahwa kamu akan menghabiskan napasmu di sini bersamaku. Tolong, jangan tinggalkan aku. Bayangmu semakin jelas saat aku menutup mata, lalu jadi menyakitkan saat ku buka mata, karena kamu tak lagi di sampingku. Tolong, sambutlah lagi pelukku. Sungguh, ini menyakitkan saat aku memelukmu erat dari belakang, namun kamu dengan dinginnya berusaha melepas tanganku. Menyakitkan, ini menyakitkan karena kini aku hanya bisa melihat punggungmu di kejauhan, merasakan hembusan napasmu dulu yang kini menjelma jadi angin malam yang sepi. Aku merindukanmu, aku membutuhkanmu. Ini bodoh, tapi aku tak bisa bernapas lega tanpamu, aku tak bisa tidur dengan nyenyak lagi setelah kamu campakkan. Aku takut, apa yang harus aku lakukan agar tetap bisa...

Cepatlah Sembuh

Dari semua ucapan, sikap, kekesalan, dan kepahitan diksimu, tuturmu hari ini sungguh melukai hatiku. Kamu boleh marah padaku, memaki, kau sudah melatihku hingga pandai. Tapi tolong jangan libatkan orang lain. Jangan libatkan mereka yang dekat denganku. Mereka tak tahu apa-apa, mereka tak bersalah apa-apa. Aku sungguh sudah muak dan ingin mengakhiri perkara tutup-buka kunci pintu komunikasi kita. Tapi kali ini aku sungguh terluka. Tak usah so tahu dan bahkan merasa dewa soal hidupku. Kamu tak tahu betapa bersyukurnya aku memiliki orang-orang terdekat yang kamu anggap tak berharga. Kamu tak tahu betapa mereka sering membantuku bernapas di tiap harinya dibanding pesan-pesanmu yang sering membuat dadaku sesak. Untuk apa kita dekat bila hanya untuk melukai? Untuk apa kita berkirim pesan hanya untuk saling memaki. Poci yang diisi teh akan mengeluarkan teh, semua sikapku merupakan refleksi sikapmu padaku. Jangan salahkan orang lain. Dirimu yang membuatku demikian. Aku kembali butuh wakt...

Silahkan

Pergilah, berlarilah secepat yang kamu bisa, menjauhlah sejauh yang kamu mau. Aku tak akan melarangmu. Lebih lanjut, aku justru akan menyemangatimu. Silahkan. Aku sungguh tidak akan menahan kepergianmu. Pergilah saja. Karena, mau tak mau, suka tak suka, pada akhirnya kamu nanti akan kembali padaku. Menyumpahimu? Tentu tidak. Aku hanya menyampaikan apa yang takdir ucap. Aku tidak akan melakukan apapun untuk menarik perhatianmu dan mengharap rasa rindumu, tidak. Aku yakin, semakin jauh kamu pergi, maka rindumu padaku akan makin berat. Semakin tergesa kamu pergi, semakin cepat pula kamu ingin kembali. Pergilah, berkelanalah. Aku tak akan menghubungimu, aku hanya akan minta pada Tuhan supaya kamu baik-baik saja sampai nanti kamu memohon padaku untuk mengizinkanmu memelukku. Maka sampai saat itu tiba, lakukanlah semua yang kamu mau. Sungguh, sampai kamu kembali, aku tak akan mencemburui wanita yang kamu kejar-kejar cintanya itu. Silahkan saja. Mau sampai kamu membelah gunung agar di...